Untukmu Hati Yang Coba Ku Yakinkan

Sudah hampir 3 bulan sejak aku tak lagi mendengar kata sayang keluar dari mulut mu, tak ada lagi sosok manis yang mengisi ruang kosong di pikiran ku setiap pagi. Tak lagi ada tingkah lucu mu yang selalu membuatku ingin cepat memutar waktu hingga kita bisa bertemu kembali.
Setiap saat ku habiskan dengan mu kala itu...bosan, ya mungkin kau bosan saat ini.

Gelak tawa mu masih ada di sini, tingkah lucu mu masih ku simpan rapi di sini, dan berharap suatu saat nanti aku akan melihat itu kembali di hadapanku, dan bukan lewat buku nostalgia di pikiran ku yang bisa aku buka tiap saat.

Mungkin manusia memang ditakdirkan untuk belajar, mendalami sesuatu dari apa yang mereka alami, tapi belajar tentang hidup dan perasaan tidak semudah waktu kita mengerjakan tugas dari guru sewaktu di sekolah dasar. Aku, mungkin juga kamu, kita belajar banyak selama ini.
Masih ingatkah kamu saat dulu pertama kita bertemu ? Tanpa canggung kita saling menyapa, meski kita sadar itu saat pertama bagi kita menatap satu sama lain. Hal indah memang datang tanpa mengetuk, dan dia juga bisa pergi tanpa berpamitan.

Bukan harta atau sesuatu yang fana yang menjadi alasan kita tertawa bahagia saat itu, tetapi hati dan perasaan yang melekat tanpa ada syarat dan ketentuan berlaku yang menjadi lem kuat untuk kita menghabiskan waktu bersama.
Tak pernah alpha kau menyapa ku tiap pagi, tak pernah lupa aku menanyakan apakah kau sudah makan saat itu, karena aku tahu sepotong kisah ku sudah ku berikan kepada mu, kini aku hanya perlu merawat dan menjaga nya sampai kita satukan semua kisah itu bersama nantinya.

Badai tak akan selamanya gelap, dan matahari memang tak selamanya bersinar, karena itulah aku kuatkan hubungan kita dengan wejangan yang biasa orang tua kita sampaikan kepada anaknya, agar selalu menjaga apa yang sudah kalian lalui bersama.
Kata orang cinta itu lebih memabukkan daripada sebotol minuman keras, ya...itu yang kita rasakan saat itu, terkadang terlalu mudah mulut ini berbicara manis, dan terlalu mudah mulut yang lain mengucap janji, namun keyakinan selalu ada di balik semua itu. Keyakikan akan menutup semua pencarian ini bersama mu, dan tak ada lagi tempat lain untuk orang yang baru, dan kita sudah siap mendayung perahu kecil kita ke lautan kisah yang luas bersama.

Sekali lagi, laut pun tak selama nya tenang.

Jalan terjal sudah kita lalui, mungkin kamu merasakan terantuk pada sebuah batu, batu yang mungkin menghentikan jalan kita karna kaki mu terluka. Aku tau itu bukan karena kesalahan kita, tapi karena medan yang kita lalui sedikit berat. Ya, hanya sedikit . . .
Masih teringat jelas di kepala ku saat itu, saat dimana aku memutuskan untuk mengejar impian ku, untuk mengejar apa yang selama ini aku cari, dan mungkin akan pergi jikalau aku tak berusaha.
Pagi itu tanpa ada persiapan, aku pergi menemui mu, pergi ke tempat dimana aku belum pernah menyambanginya. Mungkin aku gila karena cinta, tapi tetap ada keyakinan padaku saat itu.
Kulangkahkan kaki ku di kota mu, mencoba mencari jawaban atas semua mimpi ku, dan apa yang kuyakini sebagai cinta sejati.
Perjuanganku tak sia-sia, semua menjadi lebih baik saat itu, aku dan kamu bisa kembali berjalan, kaki mu sudah sembuh dari luka yang sebelumnya.
Kita habiskan waktu yang singkat untuk bisa lebih saling mengenal dan meyakinkan diri kita masing-masing kalau inilah titik terakhir kita, titik dimana kita berhenti mencari, dan siap untuk menjalani kisah selanjutnya bersama.

Dari situ aku belajar tentang apa yang orang lain sebut sebagai kebodohan dan aku lihat sebagai keyakinan.

Namun Tuhan memang mau kita terus belajar, Dia tidak memberikan kita sebuah jalan yang lurus.
Kaki kita kembali terantuk, sekarang kedua kaki kita sama-sama terluka. Jalan ini tak lagi lurus seperti biasa, kita melihat sebuah tikungan di depan sana, dimana dua jalur termpampan bersebelahan di hadapan kita, membuat dua buah jalur berbeda yang entah akan bermuara dimana.
Kita yang sedang terluka akhirnya memilih jalan yang berbeda, mungkin supaya kita tidak lagi terluka bersama di dalam satu jalan sehingga akan ada satu dari kita yang bisa mengobati jikalau ada yang terluka.

Berat memang, menjaga jarak sesaat dengan mu yang selama ini bersanding di sisi ku dan melewati semua jalur yang sudah Tuhan siapkan untuk kita.
Tapi aku masih yakin...
Ini bukanlah jalan buntu, ini hanya sekedar tikungan sayang. Kita tak tahu bagaimana jalan di depan, kemana jalan tersebut akan bermuara, tapi yakinlah semuanya pasti saling bersinggungan.

Sesaat setelah kita memilih jalan kita masing-masing, aku hanya bisa berjalan lambat, separuh semangatku mungkin terbawa bersama mu di seberang sana.
Aku takut tertinggal dengan mu, dan kau tak menemukan ku di ujung jalan nanti.
Aku takut kau bertemu orang jahat di jalan mu yang lain.
Aku takut kau tak sampai di ujung jalan pertemuan kita nanti.

Sesaat aku ling lung dengan keadaan ini, apa yang bisa kita temukan di ujung jalan ini, akankah kita bertemu lagi, ataukah Tuhan akan menaruh orang lain di jalur yang kita lalui masing-masing.
Semua itu ternyata tak patut dipertanyakan. . .

Hati ku kembali aku kuatkan, aku tegap menatap jalan ku, dan yakin akan semua yang sudah ditakdirkan padaku, juga padamu. Langkah ku yang gontai, berangsur cepat dan menjadi semangat untuk bisa kembali bertemu dengan mu, ataupun harus memutar untuk menjemputmu di jalurmu jikalau kau tak kunjung sampai di akhir perjalanan mu.

Berjalan sendiri mungkin bukan pilihan kita, tapi karena semua sudah diatur sedemikian rupa. Kenangan, harapan, dan segala hal yang sudah kita lalui bersama kini menjadi doping ku untuk bisa berlari secepat mungkin hingga sampai di ujung jalan ini.
Ku harap demikian pula dengan mu.

Aku sadar kita terpisah bukan untuk saling melupakan, tapi untuk bisa merefleksikan semua yang sudah kita lewati, baik buruknya perjalanan kita, agar nanti saat kita bertemu lagi, aku dan kamu sudah siap sepenuhnya, karena kita sudah belajar banyak dari perjalanan kita.

Biar setiap kepingan kisah kita menjadi penanda di setiap jalan yang sudah kita lewati, supaya kita tahu kalau kita sudah pernah melalui nya dan kita siap menghadapinya lagi.

Saling melupakan bukanlah yang terbaik, tapi memberikan waktu untuk saling berfikir dan memahami semua perjalanan sementara ini itulah ujung jalan  tempat dimana kita bermuara dan betemu kembali nanti.

Masih ku pegang erat kepingan hatimu, sampai nanti kita satukan lagi.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright � 2015 Berita Teratas | Design By : Improve Web Service