Decide

Pagi ini aku terjaga lebih pagi. Ku matikan alarm handphone bahkan sebelum dia berbunyi.
Cukup lelah sebenarnya hariku belakangan, namun rasa nya tak sebanding dengan apa yang ingin aku ungkapkan hari ini padamu.

Rasanya hampir tak percaya akhirnya kita tak lagi bertegur sapa. Kau sudah benar-benar melepasku sekarang. Terkadang mimpi dan realita hanya dua buah tempat yang terpisah oleh penggaris 30 cm, sungguh dekat.
Kulayangkan pertanyaan ke kepala ku, akankah aku bisa untuk berhenti percaya padamu ? berhenti percaya pada kisah cinta seperti yang ada di novel-novel itu ?
Kedewasaan juga lah yang akhirnya dituntut hadir saat ini.

Ku rasa tak perlu lagi mempertanyakan semua hal yang sekarang terjadi. Setiap hal sudah punya alasan nya masing-masing. Alasan yang tak selalu bisa kita mengerti, tapi harus bisa kita terima.
Aku dan kamu sekarang sudah mengerti. Kita sudah belajar cukup banyak dari kisah ini. Sekarang saat nya kita untuk melepas lelah dan penat.
Seperti kata mu, kita hanya cukup percaya, dan melepaskan semua dengan bekal keikhlasan, karena sejauh apapun kita pergi, akan tetap ada satu alasan untuk bertemu kembali jikalau itu memang takdir Sang Pencipta.

Saat ini lebih sering ku sebut nama mu di dalam doaku, dibanding ku sebut nama mu di depan teman-teman dan keluarga ku tatkala aku menceritakan sosok mu yang sungguh membuatku bahagia.
Tak perlu lagi aku yakinkan orang tua ku bahwa aku sudah menemukan pendamping ku, tak perlu lagi aku ceritakan semua kejadian lucu kita pada sahabatku, cukup sekarang aku bercerita pada Tuhan bahwa aku senang pernah bersama mu.

Biarlah doa jadi jalan terdekat kita untuk saling menyapa. Tanpa ada ragu kau akan tersakiti lagi olehku, dan tak perlu lagi aku merasa takut kehilangan mu seperti kemarin. 
Tidaklah perlu mengutuki keadaan yang terjadi saat ini, yakinlah semua cerita yang Tuhan persiapkan akan selalu berakhir indah. Jika saat ini belum indah, berarti cerita kita belum selesai.

Tariklah nafas mu lebih dalam, rasakan ruang kosong yang saat ini ada di hati mu. Tempat dimana dulu aku singgah. Mungkin saat ini masih ada bagian diriku di sana, aku sangat berterima kasih untuk hal itu. Cerita panjang memang selalu menyisakan memory indah untuk dikenang. Menyisakan pelajaran berharga untuk disimpan. Dan menyisakan doa untuk terus menjaga satu sama lain.

Tetaplah jadi pribadi yang baik, biarkan semua yang terjadi menjadi catatan kecil kita tentang sebuah kisah besar yang kita lalui bersama, sampai suatu saat nanti sebuah alasan mempertemukan kita kembali.


From someone who is your  reason to smile yesterday
-

True

Hai kamu :)
Ku sapa lagi sang bulan yang sudah hadir di penghujung sore ini, ku harap dia bisa sampaikan salam ku untuk mu disana.
Ku coba melangkahkan kaki keluar persinggahan nyaman ku di sini, menyusuri sudut-sudut kota untuk sekedar mencari ketenangan dalam diriku.

Aku tahu sampai saat ini aku masih merindukan mu, masih menyebut namamu di setiap doa ku, dan mungkin Tuhan sudah bosan mendengarnya.
Kutemui orang yang ku anggap sahabat, tempat dimana aku bisa berlari dan pergi sesuka hatiku, namun tempat dimana aku harus tetap berdiri disaat dia membutuhkan aku.
Ku berbagi sedikit remah remah kisah ku kepadanya, sekedar mengurangi peluh ku, dan melihat hal ini dari sudut pandang yang lain.

Awalnya aku memang kikuk, apakah yang memang sudah kulakukan hingga aku harus mendapat hukuman seberat ini, kehilangan mu adalah hukuman terberat bagiku.
Aku tak menutup mata akan kesalahan ku. Cinta itu memang ibarat kita merebus air dalam sebuah wadah. Jika suhu nya sudah terlalu panas, air itu akan menguap dan hilang di antara udara bebas.
Ada saat nya kita sampai di titik jenuh, merasa bosan dengan semua nya, merasa ingin mengakhiri semua nya, dan mencoba mencari alaasan terbaik untuk menyelesaikannya.
Tapi tidakkah sebentar saja engkau melihat lagi kebelakang ? Melihat kenapa kita bisa ada sampai saat ini, melihat kembali apa yang sudah kita lalui, apa yang sudah kita ucapkan dari bibir tipis kita masing-masing ?
Tidakkah kau mau menengok sedikit disaat aku melakukan hal-hal yang tidak kau sangka yang membuat hatimu akhirnya bergetar ?
Tidakkah kau merasakan kembali denyut-denyut perasaan bahagia saat ku pegang erat tangan mu waktu kita berjalan berdua ?
Aku tak berharap kau mengingatnya, tapi ku harap kau mau melihatnya kembali.

Ribuan kata maaf mungkin sudah terlontar dari mulut yang kotor ini, hanya untuk meyakinkan mu, bahwa belum saat nya aku kehilangan mu.
Tak perlu kau memaklumi salah ku, kau pun berhak untuk marah.
Aku sadar, masih banyak sosok lain di luar sana yang mungkin Tuhan siapkan untuk mu,
tapi aku di sini, hanya mencoba sekuat diriku, agar aku pantas berada di samping mu.
Meski ku tahu caraku terkadang salah.

Aku berhenti bukan karena aku lelah, aku berhenti karena aku merasa kita butuh waktu untuk berfikir.
Aku berlari bukan karena aku ingin mengejarmu, tapi karena aku takut kehilangan mu.
Aku melompat bukan untuk menyamai tinggi mu, tapi karena aku ingin memantaskan diriku untuk mu.

Tak pernah tabu bibir ini mengucap maaf padamu. Kali ini pun aku melotarkan sepatah kata maaf untukmu, hati yang sudah kulukai.
Biar sebentar kurasakan sakit ini, agar luka hatimu segera membaik.
Maafkan lisan ini yang pernah menyakiti mu saat itu dengan perkataan nya yang kasar.
Maafkan lisan ini yang sudah terlalu banyak melafalkan kalimat untukmu.
Maafkan hati ini yang masih gagal mencintai mu.

Kini ku bersiap memantaskan diri, kusiapkan semua untuk saat nya nanti karena Tuhan pasti punya rencana yang indah untuk aku dan kamu.
Ijinkan aku menyimpan kisah kita sebentar hingga nanti kita siap untuk bertemu kembali.

Percayakah engkau ?

Masih pagi saat ku buka mata hari ini, tak ku kira malam tadi ku bisa terlelap setelah kau tiba-tiba hadir dalam pikiran ku saat ku tahu kau datang ke kota ku.
Aku merasa sudah siap untuk kembali menapaki jalan yang dulu kita lewati bersama. Aku selalu ingin tahu sedang apa kau disana sekarang, dan apa sudah ada orang lain yang menggantikan posisiku saat ini.
Semua orang tahu saat melihat kebelakang dengan semua kenangan indah hanya akan membuat hati ini semakin tak menentu, tapi entah kenapa tetap kulakukan hal tersebut, mungkin aku gila.
Ingin rasanya ku menyapa "Hai apa kabar kamu? Masih ingatkah denganku ?" 

Masih jelas di ingatanku ketika kurasakan takut yang amat sangat ketika kau marah besar kepadaku, kuraskan perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya ketika kau berhenti untuk berucap kepadaku. Maafkan aku yang saat itu tak bertindak seperti yang kamu harapkan.

Saat ini kau dan aku sedang belajar memahami diri masing-masing, mengambil kembali ruang waktu masing-masing yang mungkin tak sempat kau dan aku jemput saat kita bersama.
Menggeluti lagi semua aktivitas mu tanpa aku yang menanyakan sedang apa kau, kapan kamu pulang, dan kapan kita bisa bertemu.

Banyak suara berdengung di kepalaku, apakah sekarang kau bahagia sekarang saat kita memutuskan untuk berjalan beriringan saat ini.
Aku pun masih ingat kata-kata terakhir mu saat itu, betapa kau mungkin membenci ku karena sikapku, ku harap itu hanya emosi sesaat mu yang tak sungguh-sungguh terucap dari dalam hatimu.

Sempat aku bingung menghadapi semuanya, apa yang harus aku lakukan, apakah ini semua hanya drama cinta seperti yang sering aku dan kamu lihat di tv, ataukah ini realita cinta yang memang harus aku jalani.
Aku coba menarik diri dari dunia luar hanya untuk memahami semua yang terjadi pada kita.
Aku dan kamu butuh waktu.

Hampir setiap hari ku coba mengintip dari balik laptop, apa yang kau lakukan setiap hari, bagaimana kabar mu, apakah kau baik-baik saja. Terkadang ku merasakan rasa yang tak biasa, ketika melihatmu bercanda dan berbincang nyaman dengan orang lain yang mungkin orang yang bisa saja menggantikan posisi ku.
Tapi di sisi yang lain, aku mencoba untuk tetap tersenyum melihat mu bahagia saat ini.

Ingin rasanya aku bertukar posisi dengan orang itu, mungkin hanya beberapa saat, namun itu sungguh berarti bagiku.
Ingin aku bertanya, "Masih ingatkah kau dengan kenangan kita dulu ?" 
Terkadang aku kalah dengan semua rasa sakit dan cemburu yang mungkin terlintas di saat aku menyambangi media sosial mu untuk sekedar tahu bagaimana kabar mu, ketika itu aku lebih memilih bersembunyi jauh di dalam kamarku, coba melepaskan semua keinginan ku untuk menoleh ke arah mu yang ku tahu semuanya akan berakhir kurang baik untuk hati ini.

Sampai satu hari, saat ku rasa diriku sudah siap untuk menghadapi semua nya, kembali melihat kehidupan mu, dan bersiap tersenyum untuk apapun yang akan kuhadapi nanti.
Kulangkahkan kaki ku masuk kembali ke dunia ku, dunia di mana penuh kenangan dengan mu, yang tak mungkin ku hapus atau ku buang jauh-jauh.
Kembali kurasakan perasaan yang sama, rasa yang dahulu ku rasakan saat kembali melihat kehidupan mu.

Sampai akhirnya aku yakin pada diriku, kalau semua ini belum selesai. Aku percaya masih ada cerita lain yang menunggu kita. Masih ada kisah baru yang harus kita tulis bersama.
Sampai saat itu tiba, aku hanya bisa memantaskan diri untuk mu, tempat ku kembali nanti, dengan segala penat ku dalam pencarian jalan kita kembali.

Untukmu Hati Yang Coba Ku Yakinkan

Sudah hampir 3 bulan sejak aku tak lagi mendengar kata sayang keluar dari mulut mu, tak ada lagi sosok manis yang mengisi ruang kosong di pikiran ku setiap pagi. Tak lagi ada tingkah lucu mu yang selalu membuatku ingin cepat memutar waktu hingga kita bisa bertemu kembali.
Setiap saat ku habiskan dengan mu kala itu...bosan, ya mungkin kau bosan saat ini.

Gelak tawa mu masih ada di sini, tingkah lucu mu masih ku simpan rapi di sini, dan berharap suatu saat nanti aku akan melihat itu kembali di hadapanku, dan bukan lewat buku nostalgia di pikiran ku yang bisa aku buka tiap saat.

Mungkin manusia memang ditakdirkan untuk belajar, mendalami sesuatu dari apa yang mereka alami, tapi belajar tentang hidup dan perasaan tidak semudah waktu kita mengerjakan tugas dari guru sewaktu di sekolah dasar. Aku, mungkin juga kamu, kita belajar banyak selama ini.
Masih ingatkah kamu saat dulu pertama kita bertemu ? Tanpa canggung kita saling menyapa, meski kita sadar itu saat pertama bagi kita menatap satu sama lain. Hal indah memang datang tanpa mengetuk, dan dia juga bisa pergi tanpa berpamitan.

Bukan harta atau sesuatu yang fana yang menjadi alasan kita tertawa bahagia saat itu, tetapi hati dan perasaan yang melekat tanpa ada syarat dan ketentuan berlaku yang menjadi lem kuat untuk kita menghabiskan waktu bersama.
Tak pernah alpha kau menyapa ku tiap pagi, tak pernah lupa aku menanyakan apakah kau sudah makan saat itu, karena aku tahu sepotong kisah ku sudah ku berikan kepada mu, kini aku hanya perlu merawat dan menjaga nya sampai kita satukan semua kisah itu bersama nantinya.

Badai tak akan selamanya gelap, dan matahari memang tak selamanya bersinar, karena itulah aku kuatkan hubungan kita dengan wejangan yang biasa orang tua kita sampaikan kepada anaknya, agar selalu menjaga apa yang sudah kalian lalui bersama.
Kata orang cinta itu lebih memabukkan daripada sebotol minuman keras, ya...itu yang kita rasakan saat itu, terkadang terlalu mudah mulut ini berbicara manis, dan terlalu mudah mulut yang lain mengucap janji, namun keyakinan selalu ada di balik semua itu. Keyakikan akan menutup semua pencarian ini bersama mu, dan tak ada lagi tempat lain untuk orang yang baru, dan kita sudah siap mendayung perahu kecil kita ke lautan kisah yang luas bersama.

Sekali lagi, laut pun tak selama nya tenang.

Jalan terjal sudah kita lalui, mungkin kamu merasakan terantuk pada sebuah batu, batu yang mungkin menghentikan jalan kita karna kaki mu terluka. Aku tau itu bukan karena kesalahan kita, tapi karena medan yang kita lalui sedikit berat. Ya, hanya sedikit . . .
Masih teringat jelas di kepala ku saat itu, saat dimana aku memutuskan untuk mengejar impian ku, untuk mengejar apa yang selama ini aku cari, dan mungkin akan pergi jikalau aku tak berusaha.
Pagi itu tanpa ada persiapan, aku pergi menemui mu, pergi ke tempat dimana aku belum pernah menyambanginya. Mungkin aku gila karena cinta, tapi tetap ada keyakinan padaku saat itu.
Kulangkahkan kaki ku di kota mu, mencoba mencari jawaban atas semua mimpi ku, dan apa yang kuyakini sebagai cinta sejati.
Perjuanganku tak sia-sia, semua menjadi lebih baik saat itu, aku dan kamu bisa kembali berjalan, kaki mu sudah sembuh dari luka yang sebelumnya.
Kita habiskan waktu yang singkat untuk bisa lebih saling mengenal dan meyakinkan diri kita masing-masing kalau inilah titik terakhir kita, titik dimana kita berhenti mencari, dan siap untuk menjalani kisah selanjutnya bersama.

Dari situ aku belajar tentang apa yang orang lain sebut sebagai kebodohan dan aku lihat sebagai keyakinan.

Namun Tuhan memang mau kita terus belajar, Dia tidak memberikan kita sebuah jalan yang lurus.
Kaki kita kembali terantuk, sekarang kedua kaki kita sama-sama terluka. Jalan ini tak lagi lurus seperti biasa, kita melihat sebuah tikungan di depan sana, dimana dua jalur termpampan bersebelahan di hadapan kita, membuat dua buah jalur berbeda yang entah akan bermuara dimana.
Kita yang sedang terluka akhirnya memilih jalan yang berbeda, mungkin supaya kita tidak lagi terluka bersama di dalam satu jalan sehingga akan ada satu dari kita yang bisa mengobati jikalau ada yang terluka.

Berat memang, menjaga jarak sesaat dengan mu yang selama ini bersanding di sisi ku dan melewati semua jalur yang sudah Tuhan siapkan untuk kita.
Tapi aku masih yakin...
Ini bukanlah jalan buntu, ini hanya sekedar tikungan sayang. Kita tak tahu bagaimana jalan di depan, kemana jalan tersebut akan bermuara, tapi yakinlah semuanya pasti saling bersinggungan.

Sesaat setelah kita memilih jalan kita masing-masing, aku hanya bisa berjalan lambat, separuh semangatku mungkin terbawa bersama mu di seberang sana.
Aku takut tertinggal dengan mu, dan kau tak menemukan ku di ujung jalan nanti.
Aku takut kau bertemu orang jahat di jalan mu yang lain.
Aku takut kau tak sampai di ujung jalan pertemuan kita nanti.

Sesaat aku ling lung dengan keadaan ini, apa yang bisa kita temukan di ujung jalan ini, akankah kita bertemu lagi, ataukah Tuhan akan menaruh orang lain di jalur yang kita lalui masing-masing.
Semua itu ternyata tak patut dipertanyakan. . .

Hati ku kembali aku kuatkan, aku tegap menatap jalan ku, dan yakin akan semua yang sudah ditakdirkan padaku, juga padamu. Langkah ku yang gontai, berangsur cepat dan menjadi semangat untuk bisa kembali bertemu dengan mu, ataupun harus memutar untuk menjemputmu di jalurmu jikalau kau tak kunjung sampai di akhir perjalanan mu.

Berjalan sendiri mungkin bukan pilihan kita, tapi karena semua sudah diatur sedemikian rupa. Kenangan, harapan, dan segala hal yang sudah kita lalui bersama kini menjadi doping ku untuk bisa berlari secepat mungkin hingga sampai di ujung jalan ini.
Ku harap demikian pula dengan mu.

Aku sadar kita terpisah bukan untuk saling melupakan, tapi untuk bisa merefleksikan semua yang sudah kita lewati, baik buruknya perjalanan kita, agar nanti saat kita bertemu lagi, aku dan kamu sudah siap sepenuhnya, karena kita sudah belajar banyak dari perjalanan kita.

Biar setiap kepingan kisah kita menjadi penanda di setiap jalan yang sudah kita lewati, supaya kita tahu kalau kita sudah pernah melalui nya dan kita siap menghadapinya lagi.

Saling melupakan bukanlah yang terbaik, tapi memberikan waktu untuk saling berfikir dan memahami semua perjalanan sementara ini itulah ujung jalan  tempat dimana kita bermuara dan betemu kembali nanti.

Masih ku pegang erat kepingan hatimu, sampai nanti kita satukan lagi.
 
Copyright � 2015 Berita Teratas | Design By : Improve Web Service